Pengenalan Sistem Informasi Geografis dan Implementasi di Bidang Pertanian
Tugas Terstruktur Sistem
Informasi Geografis
Program Studi Agroteknologi
Fakultas Pertanian
Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran”
Jawa Timur
"Pengenalan Sistem Informasi
Geografis dan Implementasi di Bidang Pertanian"
Novita Puspitasari (18025010033)
PENDAHULUAN
Salah satu sistem pengolahan data yang sangat popular di beberapa negara
maju, khususnya dalam bidang survei dan pemetaan adalah Sistem Informasi
Geografis (SIG). SIG adalah system manual dan atau komputer yang digunakan
untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan menghasilkan informasi baru yang
mempunyai rujukan spasial atau geografis. SIG muncul sebagai jawaban atas
sejumlah keterbatasan yang dihasulkan dengan teknik kartografi manual.
Kebutuhan terhadap informasi spasial baru dengan pengolahan cepat dan dinamis
mendorong para ahli untuk berkreasi menciptakan SIG.
SIG berkembang secara cepat bersamaan dengan laju perkembangan teknologi
komputer. Komputer di sini berfungsi untuk melakukan kerja kartografis dengan
data manual yang telah diubah menjadi data digital. Pekerjaan-pekerjaan
tersebut meliputi : pemasukan data, pengolahan data, manipulasi dan analisis
data, dan keluaran data. Data baik yang berwujud grafis maupun non grafis
diubah menjadi file-file yang mudah dimodifikasi, dapat dipanggil dengan cepat,
dan dapat diamati secara visual. Data tersebut dapat disimpan dalam bentuk file
elektronik, display screen, dan hardcopy. Data peta
hasil pemrosesan dengan SIG jauh lebih akurat, simpel, tidak banyak memakan
tempat, awet, dan dinamis dibandingkan dengan peta konvensional.
Sistem informasi geografis (SIG) pada hakikatnya tidak
dapat di lepaskan dari perkembangan komputer dengan segala macam perangkat
keras dan perangkat lunak. Perangkat yang aling penting dari sistem informasi
ini adalah hardware, software, brainware, dan jaringan. Perkembangan teknologi
komputer yang semakin cepat dalam beberapa waktu ini, sangat memungkinkan
berkembangnya berbagai inovasi aplikasi software sebagai wahana penyimpanan,
analisis dan penayangan data geosfer. Sistem informasi geografi ini dianggap
sebagai suatu sistem karena merupakan produk yang melibatkan banyak komponen
yang saling terkait.
Penanganan dan analisis data berdasarkan lokasi geografis merupakan kunci
utama SIG. Oleh karena itu data yang digunakan dan dianalisa dalam suatu SIG
berbentuk data peta (spasial) yang terhubung langsung dengan data tabular yang
mendefinisikan bentuk geometri data spasial. Misalnya apabila kita membuat
suatu layer tertentu, maka secara otomatis layer tersebut akan memiliki data
tabular yang berisi informasi tentang bentuk datanya (point, line atau polygon)
yang berada dalam layer tersebut . SIG menggabungkan semua kemampuan, baik
yang hanya berupa sekedar tampil saja, sistem informasi yang tersaji secara
thematis, dan sistem pemetaan yang berdasarkan susunan dan jaringan lalu-lintas
jalan, bersamaan dengan kemampuan untuk menganalisa lokasi geografis dan
informasi-informasi tertentu yang terkait terhadap lokasi yang bersangkutan.
PENGENALAN SISTEM INFORMASI
GEOGRAFIS
1. Pengertian SIG
Dalam istilah asing, SIG dikenal juga
dengan nama Geographycal Information System (GIS) yang diartikan sebagai suatu
sistem informasi yang di dasarkan pada kerja komputer yang digunakan untuk memasukkan,
menyimpan, memangggil kembali, mengolah, menganalisis, menghasilkan, dan
mempublikasikan data bereferensi geografis atau data geospatial untuk mendukung
pengambilan keputusan. SIG dapat diperguna kan untuk kepentingan perencanaan
dan pengelolaan penggunaan lahan, sumber daya alam, transportasi, fasilitas
kota, dan pelayanan umum lainnya. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dengan
sistem informasi lainnya yang membuatnya menjadi lebih berguna untuk berbagai
kalangan dalam menjelaskan kejadian, merencana kan strategi, dan memprediksi,
serta memberi solusi dari masalah yang terjadi.
Ø Perbedaan dari data, informasi dan sistem.
Data : catatan dari kenyataan yang ada/fakta
yang berupa angka, pernyataan atau gambar dan grafik.
Informasi : data/fakta/kesimpulan yang memiliki
arti dalam konteks tersusun dari data.
Sistem : terdiri dari komponen atau elemen
yang saling berhubungan dengan ketergantungan untuk mencapai suatu tujuan.
2. Subsistem Sistem Informasi
Geografis
Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat
diuraikan menjadi beberapa subsistem berikut (Prahasta,2005):
·
Data
Input
Subsistem ini bertugas untuk mengumpulkan dan
mempersiapkan data spasial dan atribut dari berbagai sumber. Subsistem ini
bertanggung jawab dalam mengkonversi atau mentransformasikan format – format
data aslinya ke dalam format yang dapat digunakan oleh SIG.
·
Data
Output
Subsistem ini menampilkan atau menghasilkan
keluaran seluruh atau sebagian basisdata baik dalam bentuk softcopy maupun
bentuk hardcopy seperti tabel, grafik, peta dan lain – lain.
·
Data
Management
Subsistem ini mengorganisasikan baik data
spasial maupun atribut ke dalam sebuah basisdata sedemikian rupa sehingga mudah
dipanggil, diupdate, dan diedit.
·
Data
Manipulation & Analysis
Subsistem ini menentukan informasi –
informasi yang dapat dihasilkan oleh SIG. Selain itu, subsistem ini juga
melakukan manipulasi dan pemodelan data untuk menghasilkan informasi yang
diharapkan.
Gambar 2.1 Subsistem SIG
Jika subsistem SIG diatas diperjelas
berdasarkan uraian jenis masukan, proses, dan jenis keluaran yang ada di
dalamnya, maka subsistem SIG juga dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.2 Uraian subsistem –
subsistem SIG
3. Komponen SIG
(Sistem Informasi Geografis)
SIG memiliki komponen-komponen sebagai berikut (Agtrisari,2002):
- Hardware
Perangkat keras di bagi menjadi 3 alat, yaitu:
1. Alat Masukan (input) : contohnya Scanner, digitizer, keyboard, mouse,
digital pen, CD-Rom, dll.
2. Alat Pemrosesan : Sistem dalam komputer yang berfungsi menyimpan mengolah
dan menganalisis data sesuai kebutuhan.
Contoh CPU, tape drive, disk drive.
3. Alat keluaran (output) : berfungsi untuk menayangakan informasi geografis.
LCD monitor, dan printer.
- Software
Sebuah software SIG haruslah menyediakan fungsi dan tool yang mampu melakukan
penyimpanan data, analisis dan menampilkan informasi geografis. Dengan
demikian, elemen yang harus dapat dalam komponen software SIG adalah:
1. Tool untuk melakukan input dan transformasi data geografis.
2. Tool yang mendukung query geografis, analisis dan visualisasi.
3. Graphical User Interface (GUI) untuk memudahkan akses pada tool geografi.
Sebagai inti dari sistem SIG adalah software dari SIG itu sendiri yang
menyediakan fungsi-fungsi untuk penyimpanan, pengaturan, link, query dan
analisis data geografi.
- Data
Data dalam SIG dibagi atas dua bentuk, yakni geographical atau data
spasial, dan atribut atau data non spasial.
1. Data
Spasial (keruangan) : yang menunjukkan rauang, lokasi atau tempat di permukaan
bumi, contoh GPS dalam bentuk cetakan.
2.
Data
Atribut (deskriptif) : data yang terdapat pada ruang atau tempat. Menjelaskan
informasi yang di peroleh dari statistik dan survey.
·
Metode
SIG didesain dan kembangkan untuk manajemen data aid yang akan mendukung
proses pengambilan keputusan organisasi. Pada beberapa organisasi penggunaan
SIG dapat dalam bentuk dan standar tersendiri untuk metode analisisnya. Jadi,
metodologi yang digunakan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
untuk beberapa proyek SIG.s
- Manusia
Seperti sistem informasi lainnya, pemakai SIG pun
memiliki tingkatan tertentu, dari tingkatan spesialis teknis yang mendesain dan
memelihara sistem sampai pada pengguna yang menggunakan SIG untuk menolong
pekerjaan mereka sehari-hari.
4.
Manfaat sistem informasi geografis
Adapun manfaat sistem informasi geografi
antara lain yaitu:
a.
Untuk
Manajemen Tata Guna Lahan
Pemanfaatan dan penggunaan lahan
merupakan bagian kajian geografi yang perlu dilakukan dengan penuh pertimbangan
dari berbagai segi. Tujuannya untuk menentukan zonifikasi lahan yang sesuai
dengan karakteristik lahan yanga ada. Dalam hal ini SIG dapat membantu
pembuatan perencanaan masing-masing wilayah tersebut dan hasilnya dapat
digunakan sebagai acuan untuk pembangunan sarana/prasarana yang diperlukan.
Lokasi dari saran/prasarana yang akan dibangun di daerah perkotaan perlu
dipertimbangkan agar efektif dan tidak melanggar kriteria-kreteria tertentu
yang bisa menyebabkan ketidakselarasan. Sementara itu, didaerah pedesaan,
manajemen tata guna lahan lebih banyak mengarah ke sektor pertanian.
b. Untuk Inventarisasi Sumber Daya Alam
·
Mengetahui persebaran berbagai
sumber daya alam misalnya minyak bumi, batu bara, emas, besi dan barang tambang
lainnya.
· Mengetahui persebaran kawasan
lahan, misalnya kawasan lahan potensial dan lahan kritis, kawasan hutan yang
masih baik dan hutan rusak, kawasan lahan pertanian dan perkebunan, pemanfaatan
perubahan penggunaan lahan, serta rehabilitasi dan konservasi lahan.
c. Untuk Pengawasan Daerah Bencana
Alam
Kemampuan SIG untuk pengawasan daerah bencana
alam misalnya:
·
Memantau luas wilayah bencana
alam.
·
Pencagahan terjadinya bencana
alam pada masa datang.
·
Menyusun rencana-rencana
pembangunan kembali daerah bencana.
·
Penentuan tingkat bahaya erosi.
·
Prediksi ketinggian banjir.
·
Prediksi tingkat kekeringan.
d.
Untuk
Perencanaan Wilayah Dan Kota
Berikut ini manfaat SIG dalam perencanaan
wilayah dan kota:
· Untuk bidang sumber daya seperti
kesesuaian lahan pemukiman, pertanian, perkebunan, tata guna lahan,
pertambangan dan energi, analisis daerah rawan bencana.
· Untuk bidang perencanaan ruang,
seperti perencanaan tata ruang wilayah, perencanaan kawasan industri, pasar,
kawasan permukiman, penataan sistem dan status pertahanan.
· Untuk bidang manajemen atau
sarana-prasarana suatu wilayah seperti manajemen, sistem informasi jaringan air
bersih, perencanaan dan perluasan jaringan listrik.
· Untuk bidang pariwisata seperti
inventarisasi pariwisata dan analisis potensi pariwisata suatu daerah.
· Untuk bidang transportasi,
seperti inventarisasi jaringan transportasi publik, kesesuaian rute alternatif,
perencanaan perluasan sistem jaringan jalan, analisis kawasan rawan kemacetan
dan kecelakaan.
· Untuk bidang sosial dan budaya
seperti untuk mengetahui luas dan persebaran penduduk suatu wilayah, mengetahui
luas dan persebaran lahan pertanian serta kemungkinan pola drainase-nya,
pendataan dan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan dan pembangunan pada suatu
kawasan. pendataan dan pengembangan pemukiman penduduk, kawasan industri,
sekolah, rumah sakit, sarana hiburan dan perkantoran.
5.
Ruang
Lingkup Sistem Informasi Geografis (SIG)
Adapun ruang lingkup SIG terdiri atas lima
proses atau tahapan dasar, yaitu:
1. Input Data
Proses input data digunakan untuk memasukkan
daya spasial dan data non spasial. Data spasial bisa berbentuk peta analog. SIG
harus memakai peta digital sehingga peta analog tersebut harus dikonversi ke
bentuk peta digital dengan memakai alat digitizer. Kecuali itu proses digitasi
dapat pula dilakukan proses overlay dengan melakukan proses scanning pada peta
analog.
2. Manipulasi Data
Tipe data yang perlukan oleh SIG kemungkinan
harus dimanipulasi supaya sesuai dengan sistem yang dipakai. Untuk itu, SIG
mampu melaksanakan fungsi edit baik untuk data spasial atau non spasial
3. Manajemen Data
Jika data spasial sudah diinput maka proses
selanjutnya adalah pengolahan data non spasial. Pengolahan data non spasial
meliputi pemakaian DBMS untuk menyimpan data yang ukurannya besar.
4. Query dan Analisis
Query yaitu proses analisis yang dilaksanakan
secara tabular. Secara fundamental SIG dapat melakukan dua jenis analisis data,
yaitu:
·
Analisis Proximity
Analisis proximity adalah analisis geografi berbasis
jarak antar layer. SIG memakai proses buffering untuk menentukan dekatnya
keterkaitan antar sifat bagian yang ada.
·
Analisis Overlay
verlay adalah proses penyatuan data lapisan layer yang
berbeda. Secara sederhana, overlay yaitu operasi visual yang membutuhkan lebih
dari satu layer untuk kemudian disatukan secara fisik.
5. Visualisasi
Sebagian tipe operasi geografis, hasil akhir
yang paling baik ditampilkan dalam bentuk peta atau grafik. Peta sangat efektif
untuk menyimpan dan memberikan informasi geografis.
IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI
PADA BIDANG PERTANIAN
Dilihat dari definisinya, GIS
adalah suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang tidak dapat
berdiri sendiri-sendiri. Memiliki perangkat keras komputer beserta dengan
perangkat lunaknya belum berarti bahwa kita sudah memiliki GIS apabila data
geografis dan sumberdaya manusia yang mengoperasikannya belum ada.
Kemampuan sumberdaya manusia untuk memformulasikan persoalan dan menganalisa
hasil akhir sangat berperan dalam keberhasilan sistem GIS.
Sebagai suatu bentuk sistem informasi, GIS
menyajikan informasi dalam bentuk grafis dengan menggunakan peta sebagai antar
muka, saat ini banyak digunakan untuk perencanaan, pelaksanaan, dan
pengendalian yang berkaitan dengan wilayah geografis. Subaryono (2005)
mengemukakan bahwa GIS sering digunakan untuk pengambilan keputusan dalam suatu
perencanaan. Para pengambil keputusan akan lebih mudah untuk menganalisa data
yang ada dengan menggunakan GIS.
Gambar 3. Pemanfaatan GIS dalam
perencanaan bidang pertanian
Aplikasi GIS pada perencanaan
bidang pertanian antara lain (1) Perencanaan Pengelola Produksi Tanaman, GIS
dapat digunakan untuk membantu perencanaan pengelolaan sumberdaya pertanian dan
perkebunan seperti luas kawasan untuk tanaman, pepohonan, atau saluran air.
Selain itu GIS digunakan untuk menetapkan masa panen, mengembangkan sistem
rotasi tanam, dan melakukan perhitungan secara tahunan terhadap kerusakan tanah
yang terjadi karena perbedaan pembibitan, penanaman, atau teknik yang digunakan
dalam masa panen. Proses pengolahan tanah, proses pembibitan, proses penanaman,
proses perlindungan dari hama dan penyakit tananan dapat dikelola oleh manager
kebun, bahkan dapat dipantau dari direksi; (2) Perencanaan
Pengelola Sistem Irigasi, GIS digunakan untuk membantu perencanaan irigasi dari
tanah-tanah pertanian. GIS dapat membantu perencanaan kapasitas sistem,
katup-katup, efisiensi, serta perencanaan distribusi menyeluruh dari air di
dalam sistem.
Gambar 4. Sistem Informasi Geografi
(GIS) berbasis pemetaan
Walaupun saat ini penggunaan GIS
dalam bidang pertanian belum umum dipakai, tapi bukanya tidak mungkin penerapan
GIS dalam dunia pertanian akan makin sering dipakai. Sistem GIS ini bukan
semata-mata software atau aplikasi komputer, namun merupakan keseluruhan dari
pekerjaan managemen pengelolaan lahan pertanian, pemetaan lahan, pencatatan
kegiatan harian di kebun menjadi database, perencanaan system dan lain-lain.
Sehingga bisa dikatakan merupakan perencanaan ulang pengelolaan pertanian
menjadi sistem yang terintegrasi. Dalam jangka panjang, bisa direduksi
kemungkinan permasalahan lahan baik fisik maupun sosial. Bahkan dapat menjamin
keberlangsungan perkebunan sebagai contohnya, dengan syarat pihak managemen
senantiasa mempelajari berjalannya sistem ini dan mengambil keputusan
managerial yang tepat.
KESIMPULAN
Sistem informasi
geografis (SIG) adalah sistem informasi khusus yang didasarakan pada kerja
komputer dengan cara memasukkan, mengelola, memanipulasi, dan menganalisa data
serta memeberiuraian (deskripsi). Sistem informasi geografis (GIS) dalam
perencanaan pengembangan pertanian sangat dibutuhkan utamanya dalam perencanaan
pengelolaan produksi tanaman, perencanaan sistem irigasi, dan perencanaan
peremajaan tanaman. Namun demikian terdapat kendala yang juga merupakan
tantangan dan hambatan dalam aplikasinya antara lain mengenai ketersediaan data
yang masih terbatas, harga yang cukup mahal, serta sumber daya manuasia dalam
bidang ini yang masih terbatas.
DAFTAR PUSTAKA
Eddy Prahasta (2005),
konsep-konsep dasar sistem informasi geografis,informatika bandung. 29 Maret
2016
Charter, D. dan Agtrisari I..
2002. Desain dan Aplikasi Geographics Information Systems. PT. Elex Media
Komputindo Kelompok Gramedia. Jakarta.
G Subarsono, 2005. Analisis
Kebijakan Publik Konsep, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Lillesand and
Kiefer, 1993. Remote Sensing And Image Interpretation, Jhon Villey and Sons,
New York.
Puntodewo.A,
S.Dewi, J.Tarigan, 2003. Sistem Informasi Geografis untuk Pengelolaan
Sumberdaya Alam. Center for International Forestry Research (CIFOR).
Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 2000. Sumberdaya Lahan Indonesia
dan Pengelolaannya. Puslit. Tanah dan Agroklimat. Bogor.




Komentar
Posting Komentar